Selasa, 19 November 2013

Makalah Ilmu Budaya Dasar


HAKEKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL




Penyusun:
Tofek Ariyanto

Dosen  : Rabith Ghuraba MH, MHI




SEKOLAH TINGGI ISLAM AL-MUKMIN
Alamat : Ngruki, Cemani Sukoharjo, Jawa Tengah
Telp./Fax: (0271) 717429






HAKEKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN SOSIAL



Pendahuluan
Pembahasan masalah ini selalu menarik dan tak akan putus disetiap zamannya. Bagaimana memahami hakikat manusia sebagai makhluk individu dan sosial. Benarkah keberadaan kita di dunia ini bukan sesuatu kebetulan saja. Atau ada sebuah misi khusus yang kita bawa ke dunia ini? Tentu jawabnya akan berbeda-beda, karena setiap kepala memiliki pemahaman yang beraneka ragam.
Sejak abad sebelum masehi perbincangan tema ini telah dikaji oleh ilmuan ilmuan dunia. Mereka mengemukakan pendapat dan teori-teorinya. Ada sebuah teori yang sangat terkenal yaitu teori generatio spontanea atau juga disebut teori abiogenesis yang menyatakan bahwa keberadaan manusia ini terjadi karena proses spontan atau tidak ada kesengajaan. Teori ini dikemukakan oleh Aristoteles yang hidup antara tahun 384-322 SM.
 Tetapi akhirnya teori ini banyak yang menentangnya, sebagai bentuk counter para penyanggah mengemukakan teori biogenesis. Teori ini menyatakan bahwa kehidupan yang ada haruslah berasal dari kehidupan sebelumnya. Diantara tokoh ilmuan yang berpendapat dengan faham ini adalah A.Y. Leuwenhock (1683). Juga penemu bakteri Lazzaro Spallanzani (1750). Kemudian muncul juga pendapat biogenesis dari Leus Pasteur tentang percobaan leher angsa yang merupakan penyempurna dari dua pendahulunya.
Kesimpulan teori ini dirumuskan dalam kalimat popular sebagai berikut, omne vivum ex ovo, yang bermakna bahwa adanya kehidupan hanya terjadi karena adanya sel telur. Dan juga omne ovum ex vivo, bahwa telur terjadi karena adanya kehidupan sebelumnya.
Bisa disimpulkan, pertanyaan ini sering dilontarkan dalam intermezzo keseharian. Tentang penciptaan ayam dan telor mana yang lebih dahulu. Apakah Anda akan menjawab telor dulu baru ayam? Atau sebaliknya, ayam dulu baru telor?
Secara ilmiah pertanyaan ini akan saya jawab dengan teori biogenesis. Yaitu kehidupan berasal dari makhluk hidup sebelumnya.
Pertanyaan saya, antara telor dan ayam manakah yang terlihat makhluk hidup? Tentunya Anda akan menjawab bahwa ayamlah yang terlihat sebagai makhluk hidup, sedangkan telor berupa benda mati. Jadi jika dikembalikan dengan teori biogenesis ini, antara telor dan ayam maka dahulu ayam daripada telor.
Begitu juga dengan keyakinan agama, bahwa manusia awalnya adalah makhluk mati sedangkan Tuhan memiliki sifat dahulu dan kekal. Berarti secara biogenesis manusia berasal dari kehidupan sebelumnya yaitu Dzat Allah sebagai Rabb yang Maha hidup lagi Maha menghidupkan.

Ciri-ciri Makhluk Hidup
Sejak kita masuk dalam bangku SD (sekolah dasar) kita telah banyak mempelajari akan ciri-ciri makhluk hidup. Berdasarkan pemahaman materialistic, makhluk hidup dapat diidentifikasikan dengan sembila ciri sebagai berikut,
1.      Nutrisi, yaitu makhluk hidup selalu memerlukan makanan.
2.      Transportasi, yaitu pengangkutan hasil-hasil pencernaan keseluruh tubuh.
3.      Sintesa, yaitu proses penyusunan sel-sel baru
4.      Respirasi, yaitu pernafasan dalam oksidasi makanan.
5.      Ekskresi, yaitu proses pengeluaran zat-zat tak berguna.
6.      Regulasi, yaitu pengaturan kerja organ-organ tubuh.
7.      Pertumbuhan dan perkembangan
8.      Reproduksi, yairu proses perkembangbiakan.
9.      Adaptasi. Yaitu penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
Manusia memiliki keseluruhan dari kesembilan ciri makhluk hidup ini. Tetapi dilihat dari segi pemahaman religi, manusia juga memiliki tiga unsur yaitu,
1.      Unsur Jasad.
2.      Unsur Akal
3.      Dan Unsur Ruh.
Dengan demikian, kita akan mencoba memahami hakikat manusia sebagai makhluk individu dan sosial dengan pendekatan pemahaman materialistic dan religi.




Manusia Sebagai Makhluk Individu
Secara alamiah manusia adalah makhluk pribadi atau individu yang tidak bisa dibagi. Manusia bersifat tunggal tidak bisa diduplikasikan, menempati satu ruang dan satu waktu. Jika ada usaha untuk membuat cloning manusia pastinya ia akan berwujud dan berbentuk serta bersifat berbeda.
Jadi sesungguhnya kita ini adalah makhluk istimewa, di dunia ini hanya ada satu diri kita. Itulah mengapa Allah menciptakan kita sebagai ahsani taqwim, makhluk yang terbaik
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (٤)
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS At Tin : 4)
Pandangan tentang manusia adalah bagian dari ilmu filsafat antropologi yang merupakan Maha Karya dari Tuhan semesta alam. Hal ini dapat dilihat dari hakekatnya yang monopluraris serta tanggungjawabnya sebagai ahsani taqwim. Unsur hakekat tersebut bila kita gabungkan akan membentuk 3 ciri unsur hakekat,
1.      Unsur hakekat manusia yang terdiri dari Jasad, Akal dan Ruh yang didalamnya mengandung Cipta, Karsa dan Rasa.
2.      Unsur hakekat yang bersifat manusia sebagai individu dan sifat sosial.
3.      Unsur hakekat manusia sebagai makhluk Allah yang paling terbaik dalam penciptaannya.
Manusia memiliki potensi yang sangat luar biasa, dalam jasmani dan rohaninya ia memiliki Cipta, Karsa dan Rasa.
Cipta adalah kemampuan manusia mengenali rahasia yang timbul dari pengalaman hidup secara lahir dan batin. Hal ini bisa menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pada hari ini telah banyak kita nikmati.
Karsa adalah kemampuan manusia dalam memahami norma-norma kehidupan dan keagamaan. Dengan adanya karsa ini terbentuklah tatanan masyarakat dan norma-norma keagamaan.
Rasa adalah kemampuan manusia mengenali berbagai macam keindahan, sehingga terbentuklah kehidupan yang bernilai seni dan keindahan.
Dalam Al Qur’an terdapat banyak kata yang berarti manusia. Penyebutannya disesuaikan dengan konteks untuk apa ayat itu ditujukan.


1.      Al Insan
Kata Al Insan berarti manusia berpotensi untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan bentuk fisiknya. Manusia awalnya adalah makhluk yang tebentuk didalam Rahim seorang ibu dengan mengalami proses tumbuh dan berkembang.
هَلْ أَتَى عَلَى الإنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا (١)
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al Insan : 1)
2.      Al Basyar
Kata Al Basyar berarti manusia yang ditinjau dari unsur jasmani atau biologis. Sehingga manusia memerlukan dorongan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya berupa makan, minum, dorongan seksual, dorongan untuk mempertahankan diri dari gangguan makhluk lainnya. Jadi Al Basyar merupakan makna dari makhluk yang bernama manusia semisal makhluk hidup yang lainnya.
إِنْ هَذَا إِلا قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥)
“ Ini tidak lain hanyalah Perkataan Al Basyar (manusia)". (QS Al Mudatsir : 25)
3.      An Naas
Kata An Naas bermakna manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan masyarakat. Manusia terlahir dari seorang laki-laki dan perempuan kemudian membentuk suatu masyarakat yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (١٣)
“ Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat : 13)
4.      Khalifah Allah
Manusia sebagai khalifah Allah berarti manusia dijadikan sebagai pemimpin bagi dirinya dan sebagai pemimpin bagi makhluk yang lainnya. Ciri khalifah Allah adalah manusia yang memiliki ilmu yang mampu mengatur segala urusan di dunia ini. Sedangkan awal dari ilmu adalah mengetahui segala istilah dan nama-nama yang ada dibumi ini. Dan Allah lah yang mengajarkan ilmu itu kepada manusia (nabi Adam ‘alaihissalam).
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ (٣٠)وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٣١)
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (QS. Al Baqarah : 30-31)
Dari nama-nama yang tertera dalam Al Qur’an ini kita bisa mengenali bahwa manusia memiliki ciri-ciri sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Manusia yang diciptakan dengan tujuan hanya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala, ini adalah manisfestasi dari hubungan manusia secara vertical kepada Allah. Allah berfirman;
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat : 56)








Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial karena tidak bisa hidup sendiri. Namun biasanya manusia menjadi makhluk yang bersifat individu dikarenakan kepentingan pribadi yang orang lain tidak boleh mengetahuinya.
Dalam mencapai tujuan hidupnya, manusia memerlukan bantuan orang lain. Secara mendasar manusiapun terlahir dari diri orang lain yaitu seorang ibu. Tanpa ibu manusia biasa tak mungkin ada di dunia ini.
Manusia memiliki sifat Adz Dzauq الذوق) ) yaitu perasaan. Manusia bisa merasakan kesendirian dan ia menginginkan kebersamaan sebagai makhluk sosial.
Manusia memiliki sifat Al Iradah (الارادة) yaitu berkehendak. Dalam mencapai cita-cita dan kehendaknya manusia memerlukan bantuan orang lain.
Manusia memiliki sifat Adz Dzakirah (الذكرة) yaitu ingatan yang kuat. Tanpa kita sadari kita selalu mengingat-ingat masa lalu yang pernah kita jalani bersama orang lain.
Dalam setiap ajaran agama khususnya agama Islam muncullah istilah keadilan sosial. Secara tersirat ini menandakan adanya strata dalam kehidupan bermasyarakat. Islam tidak memandang strata dalam urusan keduniawian, namun tentunya dalam urusan ukhrawi jelas terdapat strata yang bertingkat-tingkat.
Disamping itu, di dalam Al Qur’an penyebutan strata sosial ini hanya untuk menjelaskan dan menunjukkan kepada umat Islam bahwa Allah Maha besar dan Maha berkuasa.
Manusia diciptkan oleh Allah dengan memiliki potensi dorongan nafsu dan akal. Adanya akal dan nafsu yang dimiliki oleh manusia mendorongnya untuk mengembangkan hidupnya. Karena itulah muncul persaingan-persaingan antara mereka untuk saling menggungguli satu sama lainnya.
Persaingan itu lambat laun menajam sehingga ada yang unggul da nada yang diungguli. Tentunya ada yang kalah da nada yang menang. Pihak yang menang menjadi “Penguasa” dan yang kalah menjadi “Terjajah.”
Itulah awal dari perubahan strata yang semula manusia diciptakan dari derajat yang sama kemudian menjadi terpilah-pila pada lapisan tertentu. Ada golongan tinggi, menengah dan bawah, sehingga muncul kelas-kelas dalam suatu masyarakat yang disebut system stratifikasi sosial.
Dalam Al Qur’an banyak disebutkan walaupun secara tidak langsung tentang stratifikasi sosial dalam masyarakat. Ada yang didasarkan pada pemilikan ekonomi, jenis kelamin, strata sosial, hubungan kekerabatan, etnik atau ras, keagamaan, ilmu pengetahuan, pekerjaan dan lainya.
Di antara ayat-ayat Al Qur’an yang menyebutkan stratifikasi sosial sebagai berikut;
1.             Strata Sosial dalam Ekonomi

“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah.” (QS. An Nahl : 71)

2.             Strata Sosial dalam Status Sosial

“Tahukah kamu Apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,” (QS. Al Balad : 12 – 13)

3.             Strata Sosial dalam etnik dan ras

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat : 13)


4.             Strata Sosial dalam Ilmu Pengetahuan

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadilah : 11)

5.             Strata Sosial dalam Amal Shalih

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.” (QS. Al Bayyinah : 7)

Dari sekian banyak strata yang tersirat dalam Al Qur’an terdapat penekanan strata yang akan menghantarkan kebahagian dan derajat yang tertinggi yaitu pada surat Al Hujurat ayat 13

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”
Kandungan ayat-ayat di atas tadi walaupun belum merupakan sebuah rumusan yang sistematis, namun dapat dikatakan bahwa ayat-ayat tersebut sudah menggambarkan stratifikasi sosial yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal ini dapat dinyatakan dengan munculnya istilah-istilah : al fuqaha, al masakin, al ‘alim, al yatama dan lain sebagainya.



KESIMPULAN
Manusia memiliki kepribadian yang unik dibanding dengan makhluk yang lainnya. Selain manusia yang memiliki ciri khas sebagai makhluk individu, manusia juga memiliki sifat sebagai makhluk sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari kedua sifat ini terkadang dapat berkumpul dan terkadang bisa berpisah.
Contoh; Jika Anda memiliki rekening di bank, dan Anda memiliki kartu ATM dan nomer PIN nya tentu Anda tidak ingin nomer PIN yang Anda miliki diketahui orang lain. Ini menandakan bahwa sifat kita adalah Individu yang tak ingin sifat sosial muncul bersamaan.
Dalam hal kekurangan dan aib kita juga memiliki kepribadian Individu yang orang lain tidak ingin mengetahuinya dari diri kita. Begitu juga dengan amal-amal sholih yang kita kerjakan, tentunya jika ingin ikhlas terbebas dari sifat ujub, riya’ dan sum’ah tentunya kita tinggalkan sifat sosial yang ada dalam diri kita.
Namun ketika kita bermuamalah dengan urusan keduniawian yang lainnya tentunya kita memunculkan sifat sosial tersebut. Misalkan seorang pedagang mana mungkin menjual dagangannya tanpa mau diketahui oleh orang lain. Seorang petani boleh jadi hasil tanamannya bisa dikonsumsi sendiri tetapi apakah kebutuhan lainnya dapat terpenuhi tanpa adanya hubungan sosial dengan masyarakat lainnya.
Manisfestasi dari hubungan manusia secara horizontal yaitu hubungan antar manusia (social). Allah berfirman;
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢)
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah : 2)
 Wallahu a’lam bishshowaf.






DAFTAR PUSTAKA

-          Islam dan Sains Modern, Karya Dr. H. Ali Anwar Yusuf, MSi, Penerbit Pustaka Setia Bandung 2005
-          Landasan Pendidikan, Drs. M Jumali DKK, Penerbit Muhammadiyah University Press Solo
-          Di Bawah Naungan Cahaya Ilahi, Jama’ah Nurul Huda UKMI, UNS, Solo
-          http://nadillaikaputri.wordpress.com/2012/11/12/manusia-sebagai-makhluk-individu-dan-sosial/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar