HAKEKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU
DAN SOSIAL
Penyusun:
Tofek Ariyanto
Dosen : Rabith
Ghuraba MH, MHI
SEKOLAH TINGGI ISLAM AL-MUKMIN
Alamat : Ngruki, Cemani Sukoharjo, Jawa Tengah
Email : almukmin.stim@yahoo.com
Telp./Fax: (0271) 717429
HAKEKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU
DAN SOSIAL
Pendahuluan
Pembahasan
masalah ini selalu menarik dan tak akan putus disetiap zamannya. Bagaimana
memahami hakikat manusia sebagai makhluk individu dan sosial. Benarkah
keberadaan kita di dunia ini bukan sesuatu kebetulan saja. Atau ada sebuah misi
khusus yang kita bawa ke dunia ini? Tentu jawabnya akan berbeda-beda, karena
setiap kepala memiliki pemahaman yang beraneka ragam.
Sejak
abad sebelum masehi perbincangan tema ini telah dikaji oleh ilmuan ilmuan
dunia. Mereka mengemukakan pendapat dan teori-teorinya. Ada sebuah teori yang
sangat terkenal yaitu teori generatio spontanea atau juga disebut teori abiogenesis
yang menyatakan bahwa keberadaan manusia ini terjadi karena proses spontan
atau tidak ada kesengajaan. Teori ini dikemukakan oleh Aristoteles yang hidup
antara tahun 384-322 SM.
Tetapi akhirnya teori ini banyak yang
menentangnya, sebagai bentuk counter para penyanggah mengemukakan teori
biogenesis. Teori ini menyatakan bahwa kehidupan yang ada haruslah berasal dari
kehidupan sebelumnya. Diantara tokoh ilmuan yang berpendapat dengan faham ini
adalah A.Y. Leuwenhock (1683). Juga penemu bakteri Lazzaro Spallanzani (1750).
Kemudian muncul juga pendapat biogenesis dari Leus Pasteur tentang percobaan
leher angsa yang merupakan penyempurna dari dua pendahulunya.
Kesimpulan
teori ini dirumuskan dalam kalimat popular sebagai berikut, omne vivum ex
ovo, yang bermakna bahwa adanya kehidupan hanya terjadi karena adanya sel
telur. Dan juga omne ovum ex vivo, bahwa telur terjadi karena adanya
kehidupan sebelumnya.
Bisa
disimpulkan, pertanyaan ini sering dilontarkan dalam intermezzo
keseharian. Tentang penciptaan ayam dan telor mana yang lebih dahulu.
Apakah Anda akan menjawab telor dulu baru ayam? Atau sebaliknya, ayam dulu baru
telor?
Secara
ilmiah pertanyaan ini akan saya jawab dengan teori biogenesis. Yaitu
kehidupan berasal dari makhluk hidup sebelumnya.
Pertanyaan
saya, antara telor dan ayam manakah yang terlihat makhluk hidup? Tentunya Anda
akan menjawab bahwa ayamlah yang terlihat sebagai makhluk hidup, sedangkan
telor berupa benda mati. Jadi jika dikembalikan dengan teori biogenesis ini,
antara telor dan ayam maka dahulu ayam daripada telor.
Begitu
juga dengan keyakinan agama, bahwa manusia awalnya adalah makhluk mati
sedangkan Tuhan memiliki sifat dahulu dan kekal. Berarti secara biogenesis
manusia berasal dari kehidupan sebelumnya yaitu Dzat Allah sebagai Rabb yang
Maha hidup lagi Maha menghidupkan.
Ciri-ciri
Makhluk Hidup
Sejak
kita masuk dalam bangku SD (sekolah dasar) kita telah banyak mempelajari akan
ciri-ciri makhluk hidup. Berdasarkan pemahaman materialistic, makhluk
hidup dapat diidentifikasikan dengan sembila ciri sebagai berikut,
1. Nutrisi,
yaitu makhluk hidup selalu memerlukan makanan.
2. Transportasi,
yaitu pengangkutan hasil-hasil pencernaan keseluruh tubuh.
3. Sintesa,
yaitu proses penyusunan sel-sel baru
4. Respirasi,
yaitu pernafasan dalam oksidasi makanan.
5. Ekskresi,
yaitu proses pengeluaran zat-zat tak berguna.
6. Regulasi,
yaitu pengaturan kerja organ-organ tubuh.
7. Pertumbuhan
dan perkembangan
8. Reproduksi,
yairu proses perkembangbiakan.
9. Adaptasi.
Yaitu penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
Manusia
memiliki keseluruhan dari kesembilan ciri makhluk hidup ini. Tetapi dilihat
dari segi pemahaman religi, manusia juga memiliki tiga unsur yaitu,
1. Unsur
Jasad.
2. Unsur
Akal
3. Dan
Unsur Ruh.
Dengan
demikian, kita akan mencoba memahami hakikat manusia sebagai makhluk individu
dan sosial dengan pendekatan pemahaman materialistic dan religi.
Manusia
Sebagai Makhluk Individu
Secara
alamiah manusia adalah makhluk pribadi atau individu yang tidak bisa dibagi.
Manusia bersifat tunggal tidak bisa diduplikasikan, menempati satu ruang dan
satu waktu. Jika ada usaha untuk membuat cloning manusia pastinya ia
akan berwujud dan berbentuk serta bersifat berbeda.
Jadi
sesungguhnya kita ini adalah makhluk istimewa, di dunia ini hanya ada satu diri
kita. Itulah mengapa Allah menciptakan kita sebagai ahsani taqwim, makhluk
yang terbaik
لَقَدْ
خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (٤)
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya.” (QS At Tin : 4)
Pandangan
tentang manusia adalah bagian dari ilmu filsafat antropologi yang merupakan
Maha Karya dari Tuhan semesta alam. Hal ini dapat dilihat dari hakekatnya yang monopluraris
serta tanggungjawabnya sebagai ahsani taqwim. Unsur hakekat tersebut
bila kita gabungkan akan membentuk 3 ciri unsur hakekat,
1. Unsur
hakekat manusia yang terdiri dari Jasad, Akal dan Ruh yang didalamnya
mengandung Cipta, Karsa dan Rasa.
2. Unsur
hakekat yang bersifat manusia sebagai individu dan sifat sosial.
3. Unsur
hakekat manusia sebagai makhluk Allah yang paling terbaik dalam penciptaannya.
Manusia
memiliki potensi yang sangat luar biasa, dalam jasmani dan rohaninya ia
memiliki Cipta, Karsa dan Rasa.
Cipta
adalah kemampuan manusia mengenali rahasia yang timbul dari pengalaman hidup
secara lahir dan batin. Hal ini bisa menghasilkan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang pada hari ini telah banyak kita nikmati.
Karsa
adalah kemampuan manusia dalam memahami norma-norma kehidupan dan keagamaan.
Dengan adanya karsa ini terbentuklah tatanan masyarakat dan norma-norma
keagamaan.
Rasa
adalah kemampuan manusia mengenali berbagai macam keindahan, sehingga
terbentuklah kehidupan yang bernilai seni dan keindahan.
Dalam
Al Qur’an terdapat banyak kata yang berarti manusia. Penyebutannya disesuaikan
dengan konteks untuk apa ayat itu ditujukan.
1.
Al
Insan
Kata Al Insan berarti
manusia berpotensi untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan bentuk fisiknya.
Manusia awalnya adalah makhluk yang tebentuk didalam Rahim seorang ibu dengan
mengalami proses tumbuh dan berkembang.
هَلْ
أَتَى عَلَى الإنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا (١)
“Bukankah telah datang atas manusia satu
waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat
disebut?” (QS. Al Insan : 1)
2.
Al
Basyar
Kata Al Basyar berarti
manusia yang ditinjau dari unsur jasmani atau biologis. Sehingga manusia
memerlukan dorongan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya berupa makan, minum,
dorongan seksual, dorongan untuk mempertahankan diri dari gangguan makhluk
lainnya. Jadi Al Basyar merupakan makna dari makhluk yang bernama manusia
semisal makhluk hidup yang lainnya.
إِنْ
هَذَا إِلا قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥)
“ Ini tidak lain hanyalah Perkataan Al
Basyar (manusia)". (QS Al Mudatsir : 25)
3.
An
Naas
Kata An Naas bermakna
manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki kemampuan untuk berinteraksi
dengan masyarakat. Manusia terlahir dari seorang laki-laki dan perempuan
kemudian membentuk suatu masyarakat yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ
مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (١٣)
“ Hai manusia, Sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal.” (QS. Al Hujurat : 13)
4.
Khalifah
Allah
Manusia sebagai khalifah Allah
berarti manusia dijadikan sebagai pemimpin bagi dirinya dan sebagai pemimpin
bagi makhluk yang lainnya. Ciri khalifah Allah adalah manusia yang memiliki
ilmu yang mampu mengatur segala urusan di dunia ini. Sedangkan awal dari ilmu
adalah mengetahui segala istilah dan nama-nama yang ada dibumi ini. Dan Allah
lah yang mengajarkan ilmu itu kepada manusia (nabi Adam ‘alaihissalam).
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا
وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي
أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ (٣٠)وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ
عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
(٣١)
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada
Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di
muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui. Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama
(benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu
berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang
benar orang-orang yang benar!" (QS. Al Baqarah :
30-31)
Dari
nama-nama yang tertera dalam Al Qur’an ini kita bisa mengenali bahwa manusia
memiliki ciri-ciri sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Manusia yang
diciptakan dengan tujuan hanya untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala,
ini adalah manisfestasi dari hubungan manusia secara vertical kepada Allah.
Allah berfirman;
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ
إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat : 56)
Manusia
Sebagai Makhluk Sosial
Manusia
pada dasarnya merupakan makhluk sosial karena tidak bisa hidup sendiri. Namun
biasanya manusia menjadi makhluk yang bersifat individu dikarenakan kepentingan
pribadi yang orang lain tidak boleh mengetahuinya.
Dalam
mencapai tujuan hidupnya, manusia memerlukan bantuan orang lain. Secara
mendasar manusiapun terlahir dari diri orang lain yaitu seorang ibu.
Tanpa ibu manusia biasa tak mungkin ada di dunia ini.
Manusia
memiliki sifat Adz Dzauq الذوق)
) yaitu perasaan. Manusia bisa merasakan kesendirian dan
ia menginginkan kebersamaan sebagai makhluk sosial.
Manusia
memiliki sifat Al Iradah (الارادة)
yaitu berkehendak. Dalam mencapai cita-cita dan kehendaknya manusia
memerlukan bantuan orang lain.
Manusia
memiliki sifat Adz Dzakirah (الذكرة)
yaitu ingatan yang kuat. Tanpa kita sadari kita selalu mengingat-ingat
masa lalu yang pernah kita jalani bersama orang lain.
Dalam
setiap ajaran agama khususnya agama Islam muncullah istilah keadilan sosial.
Secara tersirat ini menandakan adanya strata dalam kehidupan
bermasyarakat. Islam tidak memandang strata dalam urusan keduniawian, namun
tentunya dalam urusan ukhrawi jelas terdapat strata yang bertingkat-tingkat.
Disamping
itu, di dalam Al Qur’an penyebutan strata sosial ini hanya untuk menjelaskan
dan menunjukkan kepada umat Islam bahwa Allah Maha besar dan Maha berkuasa.
Manusia
diciptkan oleh Allah dengan memiliki potensi dorongan nafsu dan akal. Adanya
akal dan nafsu yang dimiliki oleh manusia mendorongnya untuk mengembangkan
hidupnya. Karena itulah muncul persaingan-persaingan antara mereka untuk saling
menggungguli satu sama lainnya.
Persaingan
itu lambat laun menajam sehingga ada yang unggul da nada yang diungguli.
Tentunya ada yang kalah da nada yang menang. Pihak yang menang menjadi
“Penguasa” dan yang kalah menjadi “Terjajah.”
Itulah
awal dari perubahan strata yang semula manusia diciptakan dari derajat yang
sama kemudian menjadi terpilah-pila pada lapisan tertentu. Ada golongan tinggi,
menengah dan bawah, sehingga muncul kelas-kelas dalam suatu masyarakat yang
disebut system stratifikasi sosial.
Dalam
Al Qur’an banyak disebutkan walaupun secara tidak langsung tentang stratifikasi
sosial dalam masyarakat. Ada yang didasarkan pada pemilikan ekonomi, jenis
kelamin, strata sosial, hubungan kekerabatan, etnik atau ras, keagamaan, ilmu
pengetahuan, pekerjaan dan lainya.
Di
antara ayat-ayat Al Qur’an yang menyebutkan stratifikasi sosial sebagai
berikut;
1.
Strata Sosial
dalam Ekonomi
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain
dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau
memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama
(merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah.”
(QS. An Nahl : 71)
2.
Strata Sosial
dalam Status Sosial
“Tahukah kamu Apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?. (yaitu)
melepaskan budak dari perbudakan,” (QS. Al Balad : 12 –
13)
3.
Strata Sosial
dalam etnik dan ras
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.
Al Hujurat : 13)
4.
Strata Sosial
dalam Ilmu Pengetahuan
“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah
kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.
Al Mujadilah : 11)
5.
Strata Sosial
dalam Amal Shalih
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.” (QS. Al Bayyinah
: 7)
Dari
sekian banyak strata yang tersirat dalam Al Qur’an terdapat penekanan strata
yang akan menghantarkan kebahagian dan derajat yang tertinggi yaitu pada surat
Al Hujurat ayat 13
“Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa diantara kamu.”
Kandungan
ayat-ayat di atas tadi walaupun belum merupakan sebuah rumusan yang sistematis,
namun dapat dikatakan bahwa ayat-ayat tersebut sudah menggambarkan stratifikasi
sosial yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal
ini dapat dinyatakan dengan munculnya istilah-istilah : al fuqaha, al
masakin, al ‘alim, al yatama dan lain sebagainya.
KESIMPULAN
Manusia
memiliki kepribadian yang unik dibanding dengan makhluk yang lainnya. Selain
manusia yang memiliki ciri khas sebagai makhluk individu, manusia juga memiliki
sifat sebagai makhluk sosial.
Dalam
kehidupan sehari-hari kedua sifat ini terkadang dapat berkumpul dan terkadang
bisa berpisah.
Contoh;
Jika Anda memiliki rekening di bank, dan Anda memiliki kartu ATM dan nomer PIN
nya tentu Anda tidak ingin nomer PIN yang Anda miliki diketahui orang lain. Ini
menandakan bahwa sifat kita adalah Individu yang tak ingin sifat sosial muncul
bersamaan.
Dalam
hal kekurangan dan aib kita juga memiliki kepribadian Individu yang orang lain
tidak ingin mengetahuinya dari diri kita. Begitu juga dengan amal-amal sholih
yang kita kerjakan, tentunya jika ingin ikhlas terbebas dari sifat ujub, riya’
dan sum’ah tentunya kita tinggalkan sifat sosial yang ada dalam diri kita.
Namun
ketika kita bermuamalah dengan urusan keduniawian yang lainnya tentunya kita
memunculkan sifat sosial tersebut. Misalkan seorang pedagang mana mungkin
menjual dagangannya tanpa mau diketahui oleh orang lain. Seorang petani boleh
jadi hasil tanamannya bisa dikonsumsi sendiri tetapi apakah kebutuhan lainnya
dapat terpenuhi tanpa adanya hubungan sosial dengan masyarakat lainnya.
Manisfestasi
dari hubungan manusia secara horizontal yaitu hubungan antar manusia (social).
Allah berfirman;
وَتَعَاوَنُوا
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا
اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢)
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan
bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.”
(QS. Al Maidah : 2)
Wallahu a’lam bishshowaf.
DAFTAR PUSTAKA
-
Islam dan Sains
Modern, Karya Dr. H. Ali Anwar Yusuf, MSi, Penerbit Pustaka
Setia Bandung 2005
-
Landasan
Pendidikan, Drs. M Jumali DKK, Penerbit Muhammadiyah
University Press Solo
-
Di Bawah Naungan
Cahaya Ilahi, Jama’ah Nurul Huda UKMI, UNS, Solo
-
http://nadillaikaputri.wordpress.com/2012/11/12/manusia-sebagai-makhluk-individu-dan-sosial/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar