MEMAHAMI
AQIDAH SHAHIHAH
Dengan
Mengenali Bentuk-bentuk Penyimpangannya
Dosen : Ust Wahyudin
Tofek Ariyanto
1.
Surat Al Baqarah : 170
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ
اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ
كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ (١٧٠)
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah
diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi Kami hanya
mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami".
"(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu
tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (Al Baqarah : 170)
Dalam
ayat ini terlihat jelas sifat التقليدُ الأعمى (taqlid buta) orang-orang kafir terhadap nenek moyang mereka. Mereka
meninggalkan ilmu dan hanya mengikuti persangkaan dan hawa nafsunya. Menggangap
semua yang diwariskan oleh nenek moyang atau leluhur semuanya dianggap baik.
Walaupun secara kenyataan adalah batil. Hal ini menjadikan diri mereka Ta’ashshub
atau fanatic yang berlebihan.
Dalam
hal aqidah tentu saja perbuatan mereka ini telah menyimpang dan menentang akan
syari’at Allah. Mereka enggan menjalankan hukum Allah dan tetap bersikeras
dengan adat istiadat leluhur mereka.
Mereka
mengukur kebenaran dilihat dari kebiasaan yang telah diwariskan nenek moyang
kepada mereka. Walaupun itu telah terbukti kebathilannya secara ilmiah dengan
dalil naqli dan aqli, tetap saja mereka akan menaatinya. Dan jika
ditanyakan kepada mereka (orang kafir) akan dalil dan landasan yang mereka
gunakan, tak satupun dalil dan hujjah yang dapat mereka sampaikan, kecuali
hanya perkataan,
قَالُوا
بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Tetapi
Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang
kami".
Misalkan,
ada ajaran dari suatu agama di Indonesia ini tentang sabung ayam. Mereka
menganggap bahwa mengadu atau sabung ayam ini merupakan ibadah yang telah
diwariskan kepada mereka. Dari sisi akal dan fitrah saja sudah rusak, siapapun
akan mengatakan bahwa mengadu ayam itu bentuk kedzaliman manusia terhadap
hewan.
Dan
sekali lagi jika mereka ditanya mengapa mereka menjalankan sabung ayam ini,
pasti jawabnya karena tradisi nenek moyangnya.
2.
Surat Nuh : 23
وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ
وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (٢٣)
Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan
(penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan
(penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr". (Nuh : 23)
Penyimpangan aqidah yang dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh ini
diawali dengan sikap penghormatan kepada para alim ulama mereka. Awalnya hanya
sebatas mengenang akan jasa-jasanya tetapi lama kelamaan mereka bersikap الغُلُوا Ghuluw
(berlebihan).
Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr adalah nama ulama mereka zaman dahulu. Mereka adalah keturunan
dari Nabi Adam. Kelima orang ini adalah orang-orang shalih yang menyeru kepada
Tauhid. Setelah mereka wafat, para pengikutnya merasa rindu dan ingin
menghormatinya, lalu dibuatkan patung untuk mengenang kelima orang sholeh
tersebut.
Karena kejahilan dan jauhnya anak turun mereka dari ajaran tauhid
ini, maka terjadilah penyimpangan aqidah pada generasi selanjutnya. Akhirnya
mereka menyembah patung yang dahulunya hanya sebagai tanda untuk mengenang para
wali dan orang-orang shalih dari kalangan mereka.
Hal ini juga terjadi di Indonesia khususnya di pulau Jawa. Dahulu
para Sunan dan Wali ketika ada pesta atau walimahan, mereka menyisakan beberapa
potong makanan untuk dimakan esok hari dan diletakkan ditempat khusus seperti
diatas almari atau di dalamnya agar tidak hilang dan dimakan binatang. Awalnya
hanya berniat untuk menyisakan dan akan dimakan keesokan harinya.
Karena anak cucunya ada yang melihatnya tanpa menanyakan tujuan dan
niat menyimpan makanan itu mereka ikut-ikutan saja melakukan hal itu. Dan pada
akhirnya, perbuatan itu menjadi kebiasaan dan keyakinan. Jadilah hal itu sesaji
yang dikira berdasarkan pada syari’at Islam ini.
3.
Surat Al A’raf : 185
أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ
وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ
فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ (١٨٥)
Dan Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan
segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan
mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran
itu?
Meninggalkan ayat-ayat Allah qauliyah dan kauniyah telah
menjangkiti kehidupan masyarakat modern. Sifat الغفلة Ghaflah (lalai) ini
menjadikan kita semakin jauh dari Allah.
Mengkaji ayat kauniyah yang ada di jagad raya ini merupakan sarana
untuk lebih taqarub pada Allah subhanahu wata’ala. Namun pada hari ini
banyak dari manusia hanya mengagung-agungkan teknologi, kebudayaan dan ilmu
pengetahuan yang menghasilkan semakin jauhnya dari Allah.
Sampai-sampai mereka menganggap bahwa semua itu hasil dari jerih
payah mereka sendiri, tanpa ada campur tangannya Allah ta’ala. Padahal jika
mereka mau membuka hati bukan akal dan pikirannya saja, tentunya mereka akan
menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah di jagat raya ini.
Sayangnya sifat Ghaflah ini muncul karena mereka tidak
melandasinya dengan pemahaman tauhidullah dan hanya sebatas mencari
kesenangan dunia saja.
4.
Rasulullah n bersabda:
ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو
ينصرانه أو يمجسانه
“Tak seorang pun yang dilahirkan kecuali menurut fitrah; kedua
orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. “ [H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah]
Fitrah Allah maksudnya ialah tauhid yaitu Al Islam.
Jadi mengapa dalam hadits di atas tidak disebutkan “orang tuanyalah yang
menjadikan ia Islam.” Itu karena setiap anak yang lahir sudah Islam.
Dibiarkan saja ia akan tetap Islam, tetapi orang tuanya lah yang menjadikan
anak tersebut Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Penyimpangan aqidah terjadi karena peran besar orang tua,
walaupun dalam hadits khutbah hajah Nabi dikatakan,
من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له
“Barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang
bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada
yang mampu memberinya petunjuk.”
Orang tualah yang mempengaruhi aqidah seorang anak walaupun hidayah
itu pada akhirnya berada ditangan Allah. Kita lihat di Negara kita ini, umat
Islam yang ada pada hari ini memahami Islam kebanyakan bukan dari hasil belajar
tetapi keislamannya karena factor keturunan. Begitu juga dengan
agama-agama lain, mereka kebanyakan mengikuti agama orang tuanya.
5.
Atsar Umar bin Khathtthab
إنما تنقض عرى الإسلام عروة عروة إذا نشأ في
الإسلام من لا يعرف الجاهلية
“Sesungguhnya putusnya tali Islam itu sedikit demi sedikit apabila
tumbuh dalam Islam orang yang tidak kenal jahiliyah.”
Seseorang yang tidak mengetahui kebatilan, ia tidak akan mengingkari
kebatilan tersebut. Bila demikian halnya tentu kebatilah itu hari demi hari
akan semakin tersebar sehingga akan diangap sebuah kebenaran.
Yang pada akhirnya bila ada yang mengingkarinya ia akan dianggap
mengingkari kebenaran. Sehingga terjadi penilaian yang amat keliru, yang batil
dianggap benar, yang benar dianggap batil. Maka akan munculah penyimpangan
aqidah secara urwatan urwatan. Pelan tapi pasti….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar