Kamis, 21 November 2013

MEMAHAMI AQIDAH SHAHIHAH



MEMAHAMI AQIDAH SHAHIHAH
Dengan Mengenali Bentuk-bentuk Penyimpangannya

Dosen : Ust Wahyudin
Tofek Ariyanto

1.             Surat Al Baqarah : 170
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ (١٧٠)
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (Al Baqarah : 170)
Dalam ayat ini terlihat jelas sifat التقليدُ الأعمى   (taqlid buta) orang-orang kafir terhadap nenek moyang mereka. Mereka meninggalkan ilmu dan hanya mengikuti persangkaan dan hawa nafsunya. Menggangap semua yang diwariskan oleh nenek moyang atau leluhur semuanya dianggap baik. Walaupun secara kenyataan adalah batil. Hal ini menjadikan diri mereka Ta’ashshub atau fanatic yang berlebihan.
Dalam hal aqidah tentu saja perbuatan mereka ini telah menyimpang dan menentang akan syari’at Allah. Mereka enggan menjalankan hukum Allah dan tetap bersikeras dengan adat istiadat leluhur mereka.
Mereka mengukur kebenaran dilihat dari kebiasaan yang telah diwariskan nenek moyang kepada mereka. Walaupun itu telah terbukti kebathilannya secara ilmiah dengan dalil naqli dan aqli, tetap saja mereka akan menaatinya. Dan jika ditanyakan kepada mereka (orang kafir) akan dalil dan landasan yang mereka gunakan, tak satupun dalil dan hujjah yang dapat mereka sampaikan, kecuali hanya perkataan,
قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami".
Misalkan, ada ajaran dari suatu agama di Indonesia ini tentang sabung ayam. Mereka menganggap bahwa mengadu atau sabung ayam ini merupakan ibadah yang telah diwariskan kepada mereka. Dari sisi akal dan fitrah saja sudah rusak, siapapun akan mengatakan bahwa mengadu ayam itu bentuk kedzaliman manusia terhadap hewan.
Dan sekali lagi jika mereka ditanya mengapa mereka menjalankan sabung ayam ini, pasti jawabnya karena tradisi nenek moyangnya.
2.             Surat Nuh : 23
وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (٢٣)
Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr". (Nuh : 23)
Penyimpangan aqidah yang dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh ini diawali dengan sikap penghormatan kepada para alim ulama mereka. Awalnya hanya sebatas mengenang akan jasa-jasanya tetapi lama kelamaan mereka bersikap الغُلُوا Ghuluw (berlebihan).
Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr adalah nama ulama mereka zaman dahulu. Mereka adalah keturunan dari Nabi Adam. Kelima orang ini adalah orang-orang shalih yang menyeru kepada Tauhid. Setelah mereka wafat, para pengikutnya merasa rindu dan ingin menghormatinya, lalu dibuatkan patung untuk mengenang kelima orang sholeh tersebut.
Karena kejahilan dan jauhnya anak turun mereka dari ajaran tauhid ini, maka terjadilah penyimpangan aqidah pada generasi selanjutnya. Akhirnya mereka menyembah patung yang dahulunya hanya sebagai tanda untuk mengenang para wali dan orang-orang shalih dari kalangan mereka.
Hal ini juga terjadi di Indonesia khususnya di pulau Jawa. Dahulu para Sunan dan Wali ketika ada pesta atau walimahan, mereka menyisakan beberapa potong makanan untuk dimakan esok hari dan diletakkan ditempat khusus seperti diatas almari atau di dalamnya agar tidak hilang dan dimakan binatang. Awalnya hanya berniat untuk menyisakan dan akan dimakan keesokan harinya.
Karena anak cucunya ada yang melihatnya tanpa menanyakan tujuan dan niat menyimpan makanan itu mereka ikut-ikutan saja melakukan hal itu. Dan pada akhirnya, perbuatan itu menjadi kebiasaan dan keyakinan. Jadilah hal itu sesaji yang dikira berdasarkan pada syari’at Islam ini.
3.             Surat Al A’raf : 185
أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ وَأَنْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَدِ اقْتَرَبَ أَجَلُهُمْ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ (١٨٥)
Dan Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?
Meninggalkan ayat-ayat Allah qauliyah dan kauniyah telah menjangkiti kehidupan masyarakat modern. Sifat الغفلة  Ghaflah (lalai) ini menjadikan kita semakin jauh dari Allah.
Mengkaji ayat kauniyah yang ada di jagad raya ini merupakan sarana untuk lebih taqarub pada Allah subhanahu wata’ala. Namun pada hari ini banyak dari manusia hanya mengagung-agungkan teknologi, kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang menghasilkan semakin jauhnya dari Allah.
Sampai-sampai mereka menganggap bahwa semua itu hasil dari jerih payah mereka sendiri, tanpa ada campur tangannya Allah ta’ala. Padahal jika mereka mau membuka hati bukan akal dan pikirannya saja, tentunya mereka akan menemukan tanda-tanda kekuasaan Allah di jagat raya ini.
Sayangnya sifat Ghaflah ini muncul karena mereka tidak melandasinya dengan pemahaman tauhidullah dan hanya sebatas mencari kesenangan dunia saja.
4.             Rasulullah n bersabda:
ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Tak seorang pun yang dilahirkan kecuali menurut fitrah; kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. “ [H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah]
Fitrah Allah maksudnya ialah tauhid yaitu Al Islam. Jadi mengapa dalam hadits di atas tidak disebutkan “orang tuanyalah yang menjadikan ia Islam.” Itu karena setiap anak yang lahir sudah Islam. Dibiarkan saja ia akan tetap Islam, tetapi orang tuanya lah yang menjadikan anak tersebut Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Penyimpangan aqidah terjadi karena peran besar orang tua, walaupun dalam hadits khutbah hajah Nabi dikatakan,
من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له
“Barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang mampu memberinya petunjuk.”
Orang tualah yang mempengaruhi aqidah seorang anak walaupun hidayah itu pada akhirnya berada ditangan Allah. Kita lihat di Negara kita ini, umat Islam yang ada pada hari ini memahami Islam kebanyakan bukan dari hasil belajar tetapi keislamannya karena factor keturunan. Begitu juga dengan agama-agama lain, mereka kebanyakan mengikuti agama orang tuanya.
5.             Atsar Umar bin Khathtthab
إنما تنقض عرى الإسلام عروة عروة إذا نشأ في الإسلام من لا يعرف الجاهلية
“Sesungguhnya putusnya tali Islam itu sedikit demi sedikit apabila tumbuh dalam Islam orang yang tidak kenal jahiliyah.”
Seseorang yang tidak mengetahui kebatilan, ia tidak akan mengingkari kebatilan tersebut. Bila demikian halnya tentu kebatilah itu hari demi hari akan semakin tersebar sehingga akan diangap sebuah kebenaran.
Yang pada akhirnya bila ada yang mengingkarinya ia akan dianggap mengingkari kebenaran. Sehingga terjadi penilaian yang amat keliru, yang batil dianggap benar, yang benar dianggap batil. Maka akan munculah penyimpangan aqidah secara urwatan urwatan. Pelan tapi pasti….


Tidak ada komentar:

Posting Komentar