Tugas Makalah
PENDIDIKAN AKHLAK
Nama : Tofek Ariyanto
Dosen : Drs. Ikhsanin S, M.Pd.i
SEKOLAH TINGGI ISLAM AL-MUKMIN
Alamat : Ngruki, Cemani Sukoharjo, Jawa Tengah
Telp./Fax: (0271) 717429
PENDIDIKAN AKHLAK
“Hidup mengalir apa adanya.” Sering kita mendengar ungkapan ini, benarkah seratus persen ungkapan ini? Tentu jawabnya akan bermacam-macam tinggal dari prespektif mana kita melihatnya.
Jika kita memaknai dengan hidup tanpa harus dengan struggle artinya penuh dengan perjuangan, maka tentu ungkapan di atas salah besar. Sebab hidup ini harus diperjuangkan dan diusahakan untuk menjadi lebih baik.
Kebaikan-kebaikan itu sendiri juga memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Apalagi sudut pandang dari segi agama. Misalkan dalam ajaran agama Hindu, sabung ayam itu merupakan ibadah bagi mereka. Namun disisi lain menurut syariat Islam, sabung ayam merupakan kedhaliman yang dilakukan manusia terhadap hewan yang sama-sama makhluk Allah.
Dengan demikian, pendidikan Akhlak yang akan kita bahas kali ini adalah pendidikan yang tercermin dan didasarkan pada syariat Islam.
Dalam syariat Islam, ada beberapa tatanan akhlak yang harus kita pelajari dan kita amalkan. Namun sebenarnya jika kita rangkum akan kita dapatkan kesimpulan bahwa Akhlak yang diajarkan dalam agama Islam itu menyangkut dua hal,
1. Akhlak seorang hamba kepada penciptanya
2. Akhlak seorang hamba dengan sesama makhluk ciptaan Allah Ta’ala.
Pada makalah saya kali ini saya akan menyampaikan pendidikan Akhlak dalam konteks Akhlak seorang hamba dengan sesama makhluk ciptaan Allah Ta’ala.
A. AKHLAK TERHADAP KEDUA ORANG TUA
1. Mentaati Orang Tua Berarti Mentaati Allah
Di dalam Al Qur’an jika ada perintah shalat maka akan diikuti dengan perintah zakat. Dan juga jika ada perintah untuk mentauhidkan Allah pasti diikuti dengan perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua.
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Al-Israa' : 23-24]
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ
“Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 2), Ibnu Hibban
Jadi jika ingin mendapat ridha Allah terlebih dahulu kita harus mendapatkan ridha dari kedua orang tua. Namun jika keduanya tidak seaqidah dan menyuruh kepada kita berbuat maksiat dalam artian menyekutukan Allah maka kita harus menolaknya dengan perkataan yang baik.
Dalam surat Al-‘Ankabuut ayat 8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang berbeda aqidah jika mereka mengajak kepada kekafiran:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Al-‘Ankabuut (29): 8]
2. Berdoa Untuk Kebaikan Diri dan Orang Tua
Dalam Islam jika kita ingin mendoakan siapapun, terlebih dahulu kita mendoakan diri kita sendiri. Bukan berarti kita egois dengan diri sendiri melainkan ini perintah langsung dari Allah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS At Tahrim : 6)
Ayat ini adalah hasungan untuk menjaga diri dahulu dari api neraka kemudian baru keluarga kita. Begitu juga dalam berdoa, kita memohon kepada Allah agar diampuni kemudian kita memohon agar Allah juga mengampuni keluarga, yaitu termasuk kedua orang tua.
رب اغفر لي ولوالدي و ارحمهما كما ربياني صغيرا
“Ya Allah ampunilah daku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku di masa kecil.”
3. Bentuk-Bentuk Berbakti Kepada Orang Tua
a. Bergaul bersama keduanya dengan cara yang baik. Di dalam hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa memberi kegembiraan kepada seseorang mukmin termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberi kegembiraan kepada orang tua kita
b. Berkata kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut. Hendaknya dibedakan adab ber-bicara antara kepada kedua orang tua dengan kepada anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua.
c. Tawadhu’ (rendah hati). Tidak boleh kibr (sombong) apabila sudah meraih sukses atau memenuhi jabatan di dunia, karena sewaktu lahir, kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan, kita diberi makan, minum, dan pakaian oleh orang tua.
d. Memberi infaq (shadaqah) kepada kedua orang tua, karena pada hakikatnya semua harta kita adalah milik orang tua. Oleh karena itu berikanlah harta itu kepada kedua orang tua, baik ketika mereka minta ataupun tidak.
Seandainya orang tua masih berbuat syirik serta bid’ah, kita tetap harus berlaku lemah lembut kepada keduanya, dengan harapan agar keduanya kembali kepada Tauhid dan Sunnah. Bagaimana pun, syirik dan bid’ah adalah sebesar-besar kemungkaran, maka kita harus mencegahnya semampu kita dengan dasar ilmu, lemah lembut dan kesabaran. Sambil terus berdo’a siang dan malam agar orang tua kita diberi petunjuk kepada cahaya Islam.
4. Bentuk-Bentuk Durhaka Kepada Kedua Orang Tua
a. Perangai yang tidak baik berupa perkataan atau pun perbuatan yang membuat orang tua marah atau sakit hati.
b. Berkata “ah” atau “cis” dan tidak memenuhi panggilan orang tua.
c. Membentak atau menghardik orang tua.
d. Pelit dan bakhil tidak mengurus orang tuanya, bahkan lebih mementingkan yang lain daripada mengurus orang tuanya,
e. Menampakkan wajah yang musam, marah dan kebencian terhadap orang tua
f. Memperlakukan orang tua bagai pembantu rumah tangga.
g. Memaksa orang tua untuk mengasuh cucunya.
h. Membuka aibnya di depan umum.
i. Lebih mentaati isteri daripada kedua orang tua. Bahkan ada sebagian orang yang tega mengusir ibunya demi menuruti kemauan isterinya.
Nas-alullaahas salaamah wal ‘aafiyah.
Nas-alullaahas salaamah wal ‘aafiyah.
j. Malu mengakui orang tuanya. Sebagian orang merasa malu dengan keberadaan orang tua dan tempat tinggal ketika status sosialnya meningkat. Tidak diragukan lagi, sikap semacam itu adalah sikap yang sangat tercela, bahkan termasuk kedurhakaan yang keji dan nista.
B. AKHLAK TERHADAP TETANGGA
a. Membantu Dan Meringankan Kesulitan Tetangga
Seorang muslim tidak dikatakan orang yang benar-benar beriman jika ia membiarkan tetangganya dalam kesulitan sedangkan ia bisa membantunya. Dalam kitab Al Adab Al Mufrad, imam Al Bukhari meriwayatkan,
عن ابن عباس يخبر بن الزبير يقول سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول : ليس المؤمن الذي يشبع وجاره جائع
Dari Ibnu Abbas bahwa dia mengabarkan kepada Ibnu Zubair, dia berkata; aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah seorang Mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.”
Bahkan nilai terbaik seorang teman dan tetangga adalah seseorang yang paling baik akhlaknya terhadap kawan maupun tetangganya.
خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ
“Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah seorang yang terbaik terhadap temannya. Dan tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah seorang yang paling baik terhadap tetangganya.” HR Tirmidzi
b. Hak Tetangga Yang Terdekat
Jika kita mendapat ujian dan masalah tentunya tetangga terdekatlah yang akan segera menolong kita. Bukan sanak saudara yang jauh yang akan segera menolong. Dengan demikian hak tetangga yang pintu rumahnya paling dekat dengan kita adalah lebih besar dibanding dengan saudara kita yang jauh dari rumah kita.
Jika memiliki kelebihan rejeki, tentunya tetangga yang terdekatlah yang harus kita dahulukan. Bahkan Rasulullah menganjurkan untuk memperbanyak kuah jika kita memasak daging.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَإِنْ اشْتَرَيْتَ لَحْمًا أَوْ طَبَخْتَ قِدْرًا فَأَكْثِرْ مَرَقَتَهُ وَاغْرِفْ لِجَارِكَ مِنْهُ
“Apabila kamu membeli daging atau memasak makanan di atas periuk, maka perbanyaknya kuahnya dan berikanlah dari makanan itu untuk tetanggamu.”
c. Memperlakukan Tetangga Yang Buruk Akhlaknya
Tidak semua orang memiliki tetangga yang baik, dan tidak semua orang memiliki tetangga yang buruk. Artinya kita hidup dalam masyarakat yang heterogen. Masyarakat yang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Karena setiap manusia memiliki pemikiran yang tidak sama. Kullu ra’sin ra’yun, setiap kepala memiliki pendapat sendiri-sendiri.
Alangkah indahnya jika kita memiliki tetangga yang baik akhlaknya. Tetapi jika tetangga kita adalah sekumpulan orang-orang yang buruk akhlaknya maka apakah yang akan kita lakukan terhadap mereka?
Bisa saja kita pindah rumah mencari lokasi rumah yang nyaman jauh dari gangguan tetangga yang buruk. Namun jika hal itu tidak memungkinkan hedaklah bersabar, karena kesabarannya akan melepaskan dari itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ اللهَ عَزَّوَجَلَّ يُحِبُّ ثَلاَثَةً ويُـبْغِضُ ثَلاَثَةً –وَذَكَرَ مِنْهُمْ-رَجُلاً كَانَ لَهُ جَارٌ وَيُؤْذِيْهِ وَيَصْبِرُ عَلىَ أَذَاهُ حَتَّى يَكْفِيَهُ اللهُ إِياَّهُ يِحَيَاةٍ أَوْ مَوْتٍ
“Sesungguhnya Allah Azza wajalla mencintai tiga hal dan membenci tiga hal: Di antara yang disebutkan adalah seorang lelaki yang mempunyai tetangga yang selalu menyakitinya namun dia tetap bersabar atas prilaku buruknya sampai Allah mencukupkannya dari tetangganya baik saat hidup atau setelah kematian “.
Dengan demikian kita bisa menggunakan kesabaran untuk mendakwahi mereka. Mudah-mudahan dengan kesabaran yang kita miliki menjadikan jalan petunjuk bagi tetangga yang berakhlak buruk.
C. AKHLAK TERHADAP SESAMA MUSLIM
1. Menampakkan Keceriaan Kepada Saudara Muslim
Pepatah mengatakan, “Dalamnya laut dapat dijajaki, namun dalamnya hati tak ada yang mengerti.”
Memang pepatah ini benar maknanya. Namun wajah adalah cerminan hati, bila suasana hati baik maka akan terpancarlah wajah yang berseri. Bila prasangka kita baik maka wajah kita akan terpancar baik dihadapan saudara kita.
Rasulullah pernah bersabda;
لَا يَحْقِرَنَّ أَحَدُكُمْ شَيْئًا مِنْ الْمَعْرُوفِ وَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَلْقَ أَخَاهُ بِوَجْهٍ طَلِيقٍ
“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian meremehkan sesuatu pun dari amal kebaikan. Jika ia tidak mendapatkan sesuatu (untuk berbuat baik), hendaklah ia berwajah ceria terhadap saudaranya.
2. Menunaikan Hak Sesama Muslim
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada enam, yaitu,
1. bila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam;
2. bila ia memanggilmu penuhilah;
3. bila dia meminta nasehat kepadamu nasehatilah;
4. bila dia bersin dan mengucapkan alhamdulillah bacalah yarhamukallah (artinya = semoga Allah memberikan rahmat kepadamu);
5. bila dia sakit jenguklah;
6. dan bila dia meninggal dunia hantarkanlah (jenazahnya)".( HR. Muslim)
3. Saling Memberi Hadiah
Agar tumbuh rasa kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan agar kita saling memberi hadiah
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai (HR al-Bukhari, al-Baihaqi, Abu Ya’la)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar